Disusun oleh: Herjuno Javas R.A
Mata Pelajaran: Science & ICCT
Guru: Nurul Fatimah S,Pd
“Apa yang Terjadi dalam Sistem Pencernaan Tubuh Kita?”
Pendahuluan
Sistem pencernaan manusia merupakan salah satu sistem vital dalam tubuh yang berfungsi untuk mengolah makanan menjadi zat gizi yang dapat diserap dan dimanfaatkan oleh sel-sel tubuh. Proses pencernaan melibatkan serangkaian mekanisme fisik dan kimia yang terjadi mulai dari mulut hingga anus, serta melibatkan organ tambahan seperti hati, pankreas, dan kantung empedu. Setiap organ dalam sistem ini memiliki peran khusus yang saling berkesinambungan, mulai dari penghancuran mekanis, hidrolisis enzimatis, penyerapan nutrisi, hingga eliminasi sisa metabolisme yang tidak diperlukan tubuh.
Pemahaman mengenai fungsi organ, mekanisme kerja, hingga faktor yang dapat mengganggu sistem pencernaan sangat penting untuk menunjang kesehatan manusia. Gangguan pencernaan seperti gastritis, diare, konstipasi, hingga penyakit kronis seperti sindrom iritasi usus dan kanker kolon dapat mengganggu kualitas hidup serta berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan sistem pencernaan melalui pola makan seimbang, gaya hidup sehat, serta pemahaman tentang proses fisiologisnya menjadi hal yang sangat relevan untuk diteliti dan dikaji lebih lanjut.
Selain itu, perkembangan penelitian di bidang pencernaan juga semakin menekankan pada hubungan antara sistem pencernaan dan faktor eksternal, seperti mikrobiota usus yang berperan penting dalam metabolisme, imunitas, serta regulasi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dengan demikian, studi mengenai sistem pencernaan tidak hanya terbatas pada proses mekanis dan kimiawi, tetapi juga mencakup aspek biologis yang kompleks dan dinamis.
Imtaq
- Abasa (80): 24–32
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ ﴿٢٤﴾ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ﴿٢٥﴾ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا ﴿٢٦﴾ فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا ﴿٢٧﴾ وَعِنَبًا وَقَضْبًا ﴿٢٨﴾ وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا ﴿٢٩﴾ وَحَدَائِقَ غُلْبًا ﴿٣٠﴾ وَفَاكِهَةً وَأَبًّا ﴿٣١﴾ مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ ﴿٣٢
“Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun yang lebat, buah-buahan dan rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”
Isi
- Fungsi Organ dan Cara Kerjanya
Bagian | Proses fisik | Proses kimia | Kondisi(dewasa) | Referensi |
Mulut | – Mengunyah (mastikasi) | Hidrolisis enzimatis | – pH: 5–7 | (Chen, 2009; Marze, 2017a,b; Mosca & Chen, 2016; Rogers, 2011) |
Esofagus | – Peristaltik | – | – Waktu transit: 8–10 detik (padat), 1–2 detik (cair) | (Bender et al., 2005; Buettner et al., 2001; Rogers, 2011) |
Lambung | – Kontraksi/Peristaltik | Hidrolisis enzimatis Hidrolisis asam | – pH: 1–3 | (Boland et al., 2014; Chen et al., 2011; Mithadof, 2017; Rogers, 2011; Sullivan, 2009) |
Usus Halus | – Peristaltik (transportasi kimus) | Hidrolisis enzimatis | – pH: 6–7,5 | (Rogers, 2011; Saladin, 2017; Smith & Morton, 2010; Sullivan, 2009) |
Usus Besar | – Peristaltik (transportasi kimus) | Fermentasi | – pH: 5–7 | (Rogers, 2011; Saladin, 2017; Smith & Morton, 2010; Sullivan, 2009) |
- Mekanisme
Sistem pencernaan manusia memiliki banyak tugas penting bagi tubuh. Manusia mengonsumsi makanan, dan makananmakanan tersebut tidak dalam bentuk yang mudah digunakan tubuh, oleh karena itu sistem pencernaan harus memecahnya menjadi bagian-bagian berukuran kecil. Melalui proses pencernaan, tubuh mendapatkan nutrisi yang dibutuhkannya dari makanan dan membuang apapun yang tidak dibutuhkan.
Sistem pencernaan manusia merupakan kerjaberurutan dari organ-organ yang berkaitan. Kerja organ-organ tersebut bersifat mekanik dan kimia untuk menyerap zat-zat penting dalam makanan, memecahnya, mengekstrak nutrisi dan energi, dan mengeluarkan produk limbah dalam bentuk urin dan feses.
Sistem pencernaan berkembang secara bertahap selama ratusan juta tahun dan merupakan satu-satunya cara alami bagi manusia untuk memperoleh energi untuk bergerak dan berpikir. Pencernaan manusia mampu mengolah berbagai sumber makanan, baik hewani dan nabati, tetapi cenderung mengolah makanan terbaik yang dimasak. Ini karena makanan yang dimasak lebih mudah dihancurkan pencernaan manusia. Banyak orang jatuh sakit jika mereka mengkonsumsi makanan yang belum dimasak dengan sempurna.
Proses pencernaan dimulai ketika makanan masuk ke dalam organ pencernaan dan berakhir sampai sisa-sisa zat makanan dikeluarkan dari organ pencernaan melalui proses defekasi. Makanan masuk melalui rongga oral (mulut), dan kemudian dilanjutkan dengan proses mestikasi (mengunyah). Di sini, terjadi proses pemotongan, perobekan, penggilingan, dan pencampuran makanan yang dilakukan oleh gigi (Syaifudin, 2006). Tujuan mengunyah antara lain :
- Menggilingdan memecah makanan
- Mencampurmakanan dengan air liur
- Merangsang papil pengecap. Ketika merangsang papil pengecap maka akantimbul sensasi rasa dan secara refleks akan memicu sekresi saliva. Di dalam saliva terkandung protein air liur seperti amilase, mukus, dan lisozim.Fungsi saliva dalam proses pencernaan adalah:
- Memulai pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja enzim amilase.
- Mempermudah proses menelan dengan membasahi partikel-partikel makanan dengan adanya mukus sebagai pelumas.
- Memiliki efek antibakteri oleh lisozim.
- Pelarut untuk molekul-molekul yang merangsang pupil pengecap.
- Penyangga bikarbonat dalam air liur menetralkan asam di makanan serta asam yang dihasilkan bakteri di mulut sehingga membantu mencegah karies
Hasil proses mengunyah ini adalah bolus. Setelah proses mengunyah selesai, selanjutnya adalah proses deglutition (menelan). Menelan dimulai ketika bolus didorong oleh lidah menuju faring. Tekanan bolus di faring merangsang reseptor tekanan yang kemudian mengirim impuls aferen ke pusat menelan di medula. Pusat menelan secara refleks akan mengaktifkan otot-otot yang berperan dalam proses menelan. Tahap Menelan dibagi menjadi dua, yaitu:
- Tahap Orofaring. Tahap ini berlangsung sekitar satu detik. Pada tahap ini bolusdiarahkan ke dalam esofagus dan dicegah untuk masuk ke saluran lain yang berhubungan dengan faring.
- Tahap Esofagus. Pada tahap ini, pusat menelan memulai gerakan peristaltik primer yang mendorong bolus menuju lambung. Gelombang peristaltik berlangsung sekitar 5-9 detik untuk mencapai ujung esofagus
Selanjutnya, makanan akan mengalami pencernaan di lambung. Di lambung terjadi proses motilitas. Terdapat empat aspek proses motilitas di lambung, yaitu:
- Pengisian lambung (gastric filling). Volume lambung kosong adalah 50 ml sedangkan lambung dapat mengembang hingga kapasitasnya 1 liter.
- Penyimpanan lambung (gastric storage). Pada bagian fundus dan korpus lambung, makanan yang masuk tersimpan relatif tenang tanpa adanya pencampuran. Makanan secara bertahap akan disalurkan dari korpus ke antrum.
- Pencampuran lambung (gastric mixing). Kontraksi peristaltik yang kuat merupakan penyebab makanan bercampur dengan sekresi lambung dan menghasilkan kimus. Dengan gerakan retropulsi menyebankan kimus bercampur dengan rata di antrum. Gelombang peristaltik di antrum akan mendorong kimus menuju sfingter pilorus.
- Pengosongan lambung (gastric emptying).Kontraksi peristaltik antrum menyebabkan juga gaya pendorong untuk mengosongkan lambung (Syaifudin, 2006)
Selain melaksanakan proses motilitas, lambung juga mensekresi getah lambung. Beberapa sekret lambung diantaranya:
- Hydrochloric acid (HCL). Sel-sel partikel secara aktif mengeluarkan HCL ke dalam lumen lambung. Fungsi HCL dalam proses pencernaan adalah:
1) mengaktifkan prekusor enzim pepsinogen menjadi pepsin dan membentuk lingkungan asam untuk aktivitas pepsin,
2) membantu penguraian serat otot dan jaringan ikat,
3) bersama dengan lisozim bertugas mematikan mikro-organisme dalam makanan
- Pepsinogen.Pada saat diekresikan ke dalam lambung, pepsinogen mengalami penguraian oleh HCL menjadi bentuk aktif, yakni pepsin. Pepsin berfungsi dalam pencernaan protein untuk menghasilkan fragmenfragmen peptida. Karena fungsinya memecah protein, maka peptin dalam lambung harus disimpan dan disekresikan dalam bentuk inaktif (pepsinogen) agar tidak mencerna sendiri sel-sel tempatnya terbentuk.
- Sekresi mukus. Mukus berfungsi sebagai sawar protektif untuk mengatasi beberapa cedera pada mukosa lambung.
- Faktor intrinsik. Faktor intrinsik sangat penting dalam penyerapan vitamin B12, di mana vitamin tersebut penting dalam pembentukan eritrosit. Apabila tidak ada faktor intrinsik, maka vitamin B12 tidak dapat diserap.
- Sekresi Gastrin. Di daerah kelenjar pilorus lambung terdapat sel G yang mensekresikan gastrin (Syaifudin,2006)
Aliran sekresi getah lambung akan dihentikan secara bertahap seiring dengan mengalirnya makanan ke dalam usus. Di dalam lambung telah terjadi pencernaan karbohidrat dan mulai terjadi pencernaan protein. Di dalam lambung, makanan tidak diserap melainkan etil alkohol dan aspirin (Pearce, 2009)
Makanan selanjutnya memasuki usus halus. Usus halus merupakan tempat berlangsungnya pencernaan dan penyerapan. Usus halus di bagi menjadi tiga segmen, yaitu:
- Duodenum (panjang 20 cm). Pencernaan di lumen duodenum dibantu oleh enzim-enzim pankreas. Garamgaram empedu mempermudah pencernaan dan penyerapan lemak.
- Jejenum (panjang 2,5 meter).
- Ileum (panjang 3,6 meter).
Proses motalitas yang terjadi di dalam usus halus mencakup:
- Segmentasi
Proses mencampur dan mendorong kimus secara perlahan. Kontraksi segmental mendorong kimus ke depan dan ke belakang. Kimus akan berjalan ke depan karena frekuensi segmentasi berkurang seiring dengan panjang usus halus. Kecepatan segmentasi di duodenum adalah 12 kontraksi/menit, sedangkan kecepatan segmentasi di ileum adalah 9 kontraksi/menit. Segmentasi lebih sering terjadi di bagian awal usus halus daripada di bagian akhir, maka lebih banyak kimus yang terdorong ke depan daripada ke belakang. Akibatnya, secara perlahan kimus bergerak maju ke bagian belakang usus halus dan selama proses ini kimus mengalami proses maju mundur sehingga terjadi pencampuran dan penyerapan yang optimal.
- Komplek Motilitas Migratif
Jika sebagian makanan sudah diserap maka proses segmentasi akan berhenti dan digantikan oleh komplek motilitas migratif yang akan “menyapu” bersih usus diantara waktu makan (Abadi, 2010).
- Sekresi Usus Halus
Usus halus mensekresikan 1,5 liter larutan garam dan mukus cair yang disebut mukus enterikus ke dalam lumen yang fungsinya adalah:
- Mukus menghasilkan proteksi dan lubrikasi.
- Sekresi encer ini menghasilkan H2 O untuk ikut serta dalam pencernaan makanan secara enzimatik.
Proses pencernaan di usus halus dilakukan oleh enzim-enzim pankreas. Dalam keadaan normal, semua produk pencernaan karbohidrat, protein dan lemak serta sebagian besar elektrolit, vitamin, dan air diserap oleh usus halus. Sebagian besar penyerapan terjadi di duodenum dan jejenum.
Organ pencernaan yang terakhir adalah usus besar yang terdiri dari kolon, sekum, apendiks, dan rektum. Dalam keadaan normal, kolon menerima 500 ml kimus dari usus halus setiap hari. Isi usus yang disalurkan ke kolon terdiri dari residu makanan yang tidak dapat dicerna, komponen empedu yang tidak diserap, dan sisa cairan. Zat-zat yang tersisa untuk dieliminasi merupakan feses. Fungsi utama usus besar adalah untuk menyimpan feses sebelum defekasi (Syaifudin, 2006).
Feses akan dikeluarkan oleh refleks defekasi yangdisebabkan oleh sfingter anus internus (terdiri dari otot polos) untuk melemas dan rektum serta kolon sigmoid untuk berkontraksi lebih kuat. Apabila sfingter anus eksternus (terdiri dari otot rangka) juga melemas maka akan terjadi defekasi. Peregangan awal di dinding rektum menimbulkan keinginan untukbuang air besar.
Ketika terjadi defekasi biasanya dibantu oleh mengejan volunter yang melibatkan kontraksi simultan otot-otot abdomen dan ekspirasi paksa dengan glotis dalam posisi tertutup sehingga meningkatkan tekanan intra-abdomen yang membantu pengeluaran feses (Abadi, 2010).
- Macam-macam Enzim dan Fungsinya Dalam Sistem Pencernaan
- Mulut
- Enzim ptialin, mengubah amilum menjadi maltosa
- Lambung
- Enzim pepsin, mengubah protein menjadi pepton
- Enzim renin, mengubah protein menjadi kasein (protein susu) & mengendapkan kasein susu
- Enzim lipase gastrik, mengubah lemak menjadi asam lemak
- Pankreas
- Enzim amilase, mengubah amilum menjadi maltosa & glukosa
- Enzim lipase steapsin, mengemulsi Lemak menjadi asam lemak & gliserol
- Enzim tripsin, mengubah pepton menjadi polipeptida (asam amino)
- Kelenjar usus
- Enzim enterokinase(enzim khusus), berfungsi untuk mengubah tripsinogen menjadi tripsin yang digunakan dalam saluran pankreas
- Enzim maltase, berfungsi untuk mengubah maltosa menjadi glukosa
- Enzim laktase, berfungsi untuk mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa
- Enzim sukrase, berfungsi untuk mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa
- Enzim paptidase, berfungsi untuk mengubah polipeptida menjadi asam amino
- Enzim lipase usus, berfungsi untuk mengubah Lemak menjadi asam lemak dan gliserol
- Enzim erepsin/dipeptidase, berfungsi untuk mengubah dipeptida atau pepton menjadi asam amino
- Enzim disakarase, berfungsi untuk mengubah disakarida menjadi monosakarida(Wikipedia, 2025)
- Macam-macam Gangguan Sistem Pencernaan
Gangguan sistem pencernaan adalah masalah yang terjadi pada saluran atau organ yang terlibat dalam pencernaan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi hingga naiknya asam lambung. Gejala gangguan sistem pencernaan pun bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat.
Berikut ini adalah macam-macam gangguan sistem pencernaan yang umum ditemui:
- Diare
Diare adalah peningkatan frekuensi BAB lebih dari 3 kali dalam sehari disertai perubahan konsistensi menjadi lebih cair. Kondisi ini bisa disebabkan oleh perubahan pola makan, infeksi rotavirus, atau bakteri. Diare bisa berlangsung selama beberapa hari hingga berminggu-minggu.
Selain menyebabkan perubahan frekuensi dan konsistensi BAB, diare juga bisa mengakibatkan penderitanya mengalami kram perut, demam, kembung, dan mual.
- Sembelit
Konstipasi atau sembelit adalah perubahan frekuensi BAB menjadi lebih jarang dan disertai dengan kesulitan BAB. Hal ini bisa disebabkan oleh menurunnya pergerakan usus. Umumnya seseorang dianggap mengalami sembelit ketika frekuensi buang air besarnya kurang dari 3 kali dalam seminggu.Di samping frekuensi buang air besar yang menurun, gejala sembelit lainnya meliputi:
- Feses keras.
- Harus mengejan saat buang air besar.
- Merasa ada penyumbatan di rektum, sehingga tinja sulit dikeluarkan.
- Merasa tidak tuntas setelah buang air besar.
- Perlu bantuan untuk mengeluarkan feses, misalnya menekan perut atau menggunakan jari tangan untuk mengeluarkan feses dari anus.
- Wasir (hemoroid)
Wasir terjadi ketika pembuluh darah vena yang terletak di luar atau di dalam saluran anus (rektum) mengalami pembengkakan. Penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja, namun sekitar 50% penderitanya berusia di atas 50 tahun. Wasir dapat menimbulkan nyeri dan gatal pada anus, benjolan di anus, serta keluarnya darah ketika BAB. Kadang wasir juga bisa membuat penderitanya sulit untuk duduk.
- GERD
Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit asam lambung terjadi ketika asam lambung naik menuju kerongkongan. Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya katup (sfingter) yang terletak di dalam saluran kerongkongan bagian bawah.
Pada orang sehat, katup tersebut akan berkontraksi dan menutup saluran kerongkongan setelah makanan turun ke lambung. Namun pada penderita GERD, katup yang lemah menyebabkan kerongkongan tetap terbuka, sehingga asam lambung naik ke kerongkongan.
Beberapa gejala penyakit asam lambung adalah:
- Rasa perih dan sensasi seperti terbakar di dada, yang bertambah parah setelah makan atau saat berbaring.
- Rasa asam di belakang mulut.
- Sakit saat menelan.
- Adanya rasa mengganjal di kerongkongan.
- Batuk tanpa dahak.
- Radang tenggorok, jika asam lambung mengiritasi tenggorokan.
- Tukak lambung
Tukak lambung adalah luka pada lapisan lambung dan usus halus bagian atas. Pengikisan dan luka tersebut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori atau penggunaan obat pereda nyeri dalam jangka panjang. Umumnya tukak lambung menimbulkan nyeri ulu hati. Gejala lain yang bisa muncul pada tukak lambung adalah:
- Rasa begah dan kembung
- Mual dan muntah
- Feses berwarna gelap
- Perubahan nafsu makan
- Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya (Alodokter, 2025)
Kesimpulan
Sistem pencernaan manusia adalah rangkaian organ vital yang bekerja secara terintegrasi untuk mengolah makanan menjadi zat gizi yang dapat diserap tubuh serta membuang sisa yang tidak diperlukan. Proses pencernaan melibatkan kerja mekanis, seperti mastikasi, peristaltik, kontraksi, dan segmentasi, serta kerja kimiawi berupa sekresi enzim, asam, dan cairan pencernaan. Mulut berfungsi sebagai tahap awal penghancuran dan pemecahan karbohidrat, lambung sebagai tempat pencernaan utama protein dan lemak, usus halus sebagai pusat penyerapan zat gizi, dan usus besar berperan dalam penyerapan air serta pembentukan feses.
Selain organ utama, organ tambahan seperti hati, pankreas, dan kantung empedu berperan penting dalam membantu pemecahan lemak, karbohidrat, dan protein melalui sekresi enzim dan cairan pendukung. Proses pencernaan juga ditunjang oleh peran enzim-enzim khusus, mulai dari amilase, pepsin, lipase, hingga enzim usus yang menyempurnakan pemecahan molekul kompleks menjadi bentuk sederhana yang dapat diserap tubuh.
Namun, sistem pencernaan rentan terhadap berbagai gangguan, seperti diare, sembelit, wasir, GERD, hingga tukak lambung. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh infeksi, pola makan yang buruk, hingga faktor gaya hidup. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sistem pencernaan melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, hidrasi yang cukup, kebersihan makanan, serta pola hidup sehat sangatlah penting.
Dengan memahami fungsi organ, mekanisme kerja, peran enzim, dan gangguan yang dapat terjadi, manusia diharapkan lebih mampu menjaga kesehatan sistem pencernaannya. Hal ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS. Abasa (80): 24–32 yang mengingatkan manusia untuk memperhatikan makanannya, karena makanan yang baik merupakan salah satu sumber utama kesehatan dan keberlangsungan hidup.
Daftar Pustaka
Chen, 2009; Marze, 2017a,b; Mosca & Chen, 2016; Rogers, 2011; Bender et al., 2005; Buettner et al., 2001; Rogers, 2011; Boland et al., 2014; Chen et al., 2011; Mithadof, 2017; Rogers, 2011; Sullivan, 2009; Rogers, 2011; Saladin, 2017; Smith & Morton, 2010; Sullivan, 2009; Rogers, 2011; Saladin, 2017; Smith & Morton, 2010; Sullivan, 2009. A Review on The Food Digestion in The Digestive Tract and The Used In Vitro Models. Diakses dari: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2665927121000307?ref=pdf_download&fr=RR-2&rr=984eee431e664e3c
Syaifudin, 2006; Pearce, 2009; Abadi, 2010. Asuhan Keperawatan pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pencernaan, Diakses dari; http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/7974/1/Askep%20Sistem%20Pencernaan%20%281%29.pdf
Wikipedia, 2025. Enzim Pencernaan. Diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Enzim_pencernaan
Alodokter, 2025. Macam-Macam Gangguan Sistem Pencernaan yang Umum Terjadi. Diakses dari: https://www.alodokter.com/macam-macam-gangguan-sistem-pencernaan-yang-umum-terjadi
