Disusun Oleh: Kevin Neal
Mata Pelajaran: Sains & ICCT
Guru: Ms Nurul Fatimah, M.Pd.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
Sistem Pencernaan Manusia
Pendahuluan
Salah satu kebutuhan pokok makhluk hidup adalah makanan. Makanan dibutuhkan oleh makhluk hidup sebagai sumber energi, oleh karena itu makanan yang dikonsumsi harus mengandung zatzat yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin,mineral, dan air. Manusia membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya, tapi makanan bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah berasimilasi ke dalam sel tubuh manusia. Untuk menyerap zat gizi yang terkandung, makanan harus dicerna terlebih dahulu. Perubahan makanan dari bentuk yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana disebut proses pencernaan makanan. Sistem pencernaan pada manusia merupakan serangkaian proses untuk mengubah makanan dengan memecah molekul makanan yang kompleks menjadi sederhana dengan bantuan enzim dan menyerap sari makanan yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Makanan yang masuk ke dalam tubuh terlebih dulu harus dipecah menjadi beberapa bagian sebelum bisa digunakan. Di sinilah pentingnya fungsi sistem pencernaan. Sistem pencernaan adalah sekelompok organ yang bekerja sama untuk mengubah makanan menjadi energi dan nutrisi dasar untuk memberi makan seluruh tubuh. Pekerjaan memecah makanan menjadi bagian-bagian yang sangat kecil dilakukan melalui proses kimia, diawali di dalam rongga mulut dengan bantuan air liur. Begitu 10 Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Gangguan Sistem Pencernaan terpecah, komponen makanan dapat digunakan sel tubuh untuk berbagai hal, seperti melepaskan energi, memproduksi sel darah merah, membangun tulang, dan menjalankan semua fungsi lain yang diperlukan untuk menjaga tubuh tetap berfungsi. Tanpa proses pencernaan, tubuh tidak akan bisa menopang kebutuhan dirinya sendiri. Panjang organ-organ sistem pencernaan pada masing-masing orang bervariasi, tapi umumnya sekitar 8-9 meter. Panjang kerongkongan rata-rata, misalnya, sekitar 22-25 sentimeter, usus halus sekitar 7 meter, dan usus besar sekitar 2 meter. Dengan begitu waktu yang dibutuhkan untuk mencerna makanan bisa sedikit pada setiap individu, juga pada laki-laki dan perempuan. Secara umum keseluruhan proses memakan waktu rata-rata sekitar 50 jam bagi orang sehat, namun dapat juga bervariasi antara 24 dan 72 jam dalam kondisi tertentu. Setelah mengunyah dan menelannya, makanan diproses perut dan usus halus selama 4 sampai 7 jam. Sesudah itu, makananberada di dalam usus besar rata-rata sekitar 40 jam. Bagi pria rata-rata waktu untuk mencerna makanan lebih pendek daripada wanita. Banyak gejala yang bisa menandakan masalah pada saluran cerna, termasuk sakit perut, perdarahan di tinja, kembung, konstipasi, diare, mulas, inkontinensia, mual dan muntah, serta kesulitan menelan. Banyak penyakit sistem pencernaan terkait dengan makanan yang kita makan dan kebanyakan penderita dapat mengurangi gejala mereka dengan membatasi makanannya. Menghindari makanan asam, seperti tomat, bawang merah, dan anggur merah, bisa berdampak baik pada kesembuhan pasien. Ada sejumlah tes untuk mendeteksi penyakit saluran pencernaan. Kolonoskopi adalah pemeriksaan bagian dalam usus besar dengan menggunakan alat penglihatan serat optik yang panjang dan fleksibel yang disebut colonoscope. Prosedur tes lainnya meliputi endoskopi saluran cerna atas, endoskopi kapsul, cholan
Cara Kerja Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan memecah makanan menjadi zat gizi yang dapat diserap tubuh melalui proses mekanik (mengunyah, peristaltik) dan kimiawi (enzim, asam). Prosesnya berurutan dari mulut hingga anus:
Mulut – Makanan dikunyah (mastikasi) menjadi bolus, dicampur air liur yang mengandung amilase, mukus, dan lisozim. Air liur membantu pencernaan karbohidrat, pelumasan, antibakteri, dan menjaga pH mulut.
Menelan (deglutisi) – Lidah mendorong bolus ke faring lalu ke esofagus dengan gerak peristaltik menuju lambung.
Lambung – Mencampur dan menyimpan makanan, menghasilkan kimus. Sekresinya meliputi:
HCl: mengaktifkan pepsin, membunuh mikroba, menguraikan jaringan.
Pepsinogen → pepsin: mencerna protein.
Mukus: melindungi dinding lambung.
Faktor intrinsik: membantu penyerapan vitamin B12.
Gastrin: merangsang sekresi lambung.
Usus Halus (duodenum, jejunum, ileum) – Tempat pencernaan dan penyerapan utama.
Enzim pankreas (amilase, lipase, tripsin) dan garam empedu memecah karbohidrat, lemak, dan protein.
Gerakan segmentasi mencampur kimus, lalu produk pencernaan diserap.
Usus Besar (kolon, sekum, apendiks, rektum) – Menyerap air, membentuk dan menyimpan feses. Bakteri menghasilkan vitamin K dan B.
Anus – Feses dikeluarkan melalui refleks defekasi yang melibatkan kontraksi otot rektum, kolon sigmoid, dan pelemasan sfingter anus.
Pencernaan memberi tubuh energi dan nutrisi penting, serta membuang sisa yang tidak dibutuhkan dalam bentuk feses.
Bagian-Bagian Sistem Pencernaan dan Fungsinya
Mulut
Fungsi: Mengunyah makanan, mencampur dengan air liur, dan memulai pencernaan karbohidrat.
Enzim: Amilase (ptialin) – memecah pati menjadi maltosa.
Lidah
Fungsi: Membantu mengunyah, menelan, dan mengecap rasa.
Enzim: Tidak menghasilkan enzim pencernaan.
Kelenjar Ludah
Fungsi: Menghasilkan air liur untuk membasahi, melumasi, dan membantu menelan makanan.
Enzim: Amilase (ptialin) – memecah pati menjadi maltosa.
Gigi
Fungsi: Memotong, mengoyak, dan menghaluskan makanan agar mudah dicerna (pencernaan mekanik).
Enzim: Tidak menghasilkan enzim pencernaan.
Tenggorokan (Faring): Menyalurkan makanan ke kerongkongan,
tidak menghasilkan enzim.
Kerongkongan (Esofagus): Mendorong makanan ke lambung dengan gerak peristaltik,
tidak menghasilkan enzim.
Lambung: Menyimpan, mencampur, dan mencerna protein;
enzim pepsin, renin (bayi), lipase lambung, serta HCl.
Usus Halus: Mencerna dan menyerap zat gizi;
enzim amilase, tripsin, lipase, peptidase, maltase, sukrase, laktase.
Usus Besar: Menyerap air dan membentuk feses;
tidak menghasilkan enzim, hanya bakteri penghasil vitamin K dan B.
Usus Buntu: Cadangan bakteri baik,
tidak menghasilkan enzim.
Umbai Cacing: Pertahanan tubuh (limfoid),
tidak menghasilkan enzim.
Rektum: Menyimpan feses sebelum dikeluarkan,
tidak menghasilkan enzim.
Anus: Mengeluarkan feses,
tidak menghasilkan enzim.
Pankreas: Menghasilkan enzim amilase, lipase, tripsin/kimotripsin serta hormon insulin dan glukagon.
Hati: Memproduksi empedu, menyimpan glikogen, menetralkan racun,
tidak menghasilkan enzim.
Kandung Empedu: Menyimpan dan mengeluarkan empedu untuk membantu pencernaan lemak, tidak menghasilkan enzim (Mardalena)
Gangguan atau Penyakit pada Sistem Pencernaan
dapat berupa gastritis, yaitu peradangan dinding lambung akibat infeksi Helicobacter pylori atau pola makan buruk; maag (dispepsia) karena produksi asam lambung berlebih; diare akibat infeksi bakteri, virus, atau keracunan makanan; sembelit (konstipasi) karena kurang serat dan dehidrasi; GERD yaitu naiknya asam lambung ke esofagus; ulkus peptikum berupa luka pada lambung atau usus dua belas jari; hepatitis yaitu peradangan hati akibat virus, alkohol, atau racun; batu empedu karena endapan kolesterol atau garam empedu; wasir (hemoroid) berupa pembengkakan pembuluh darah di anus; dan apendisitis yaitu peradangan usus buntu yang menimbulkan nyeri perut kanan bawah. (Sumber: Syaifudin, 2006; Abadi, 2010; Kementerian Kesehatan RI, 2021)
Cara Menjaga Kesehatan Sistem Pencernaan
Menjaga kesehatan sistem pencernaan dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berserat, minum air putih yang cukup, makan teratur, mengunyah makanan dengan baik, rutin berolahraga, mengelola stres, serta menghindari makanan berlemak, pedas, alkohol, kafein, rokok, dan menjaga kebersihan makanan.
(Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2021; WHO – Healthy Diet, 2020)
Kesimpulan
Sistem pencernaan manusia merupakan rangkaian organ yang bekerja secara mekanik dan kimia untuk memecah makanan menjadi zat gizi yang dapat diserap tubuh sebagai sumber energi, pertumbuhan, dan perbaikan jaringan. Prosesnya dimulai dari mulut, dilanjutkan ke lambung, usus halus, dan diakhiri dengan pembuangan sisa makanan melalui usus besar. Menjaga kesehatan pencernaan penting dilakukan dengan pola makan bergizi, cukup serat dan air, olahraga teratur, serta menjaga kebersihan makanan agar terhindar dari berbagai penyakit.
(Sumber: Syaifudin, 2006; Kementerian Kesehatan RI, 2021)
Daftar Pustaka
Syaifudin, 2006; Kementerian Kesehatan RI, 2021
Mardalena, 2013, ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
WHO, 2021, Kementerian Kesehatan RI, 2020
Mulut – Makanan dikunyah (mastikasi) menjadi bolus, dicampur air liur yang mengandung amilase, mukus, dan lisozim. Air liur membantu pencernaan karbohidrat, pelumasan, antibakteri, dan menjaga pH mulut.
Menelan (deglutisi) – Lidah mendorong bolus ke faring lalu ke esofagus dengan gerak peristaltik menuju lambung.
Lambung – Mencampur dan menyimpan makanan, menghasilkan kimus. Sekresinya meliputi:
HCl: mengaktifkan pepsin, membunuh mikroba, menguraikan jaringan.
Pepsinogen → pepsin: mencerna protein.
Mukus: melindungi dinding lambung.
Faktor intrinsik: membantu penyerapan vitamin B12.
Gastrin: merangsang sekresi lambung.
Usus Halus (duodenum, jejunum, ileum) – Tempat pencernaan dan penyerapan utama.
Enzim pankreas (amilase, lipase, tripsin) dan garam empedu memecah karbohidrat, lemak, dan protein.
Gerakan segmentasi mencampur kimus, lalu produk pencernaan diserap.
Usus Besar (kolon, sekum, apendiks, rektum) – Menyerap air, membentuk dan menyimpan feses. Bakteri menghasilkan vitamin K dan B.
Anus – Feses dikeluarkan melalui refleks defekasi yang melibatkan kontraksi otot rektum, kolon sigmoid, dan pelemasan sfingter anus.
Fungsi: Mengunyah makanan, mencampur dengan air liur, dan memulai pencernaan karbohidrat.
Enzim: Amilase (ptialin) – memecah pati menjadi maltosa.
Fungsi: Membantu mengunyah, menelan, dan mengecap rasa.
Enzim: Tidak menghasilkan enzim pencernaan.
Fungsi: Menghasilkan air liur untuk membasahi, melumasi, dan membantu menelan makanan.
Enzim: Amilase (ptialin) – memecah pati menjadi maltosa.
Fungsi: Memotong, mengoyak, dan menghaluskan makanan agar mudah dicerna (pencernaan mekanik).
Enzim: Tidak menghasilkan enzim pencernaan.
(Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2021; WHO – Healthy Diet, 2020)
Syaifudin, 2006; Kementerian Kesehatan RI, 2021
Mardalena, 2013, ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
WHO, 2021, Kementerian Kesehatan RI, 2020
